Kapasitas solar global naik 510 GW menjadi 2.383 GW pada 2025, atau tumbuh 27 persen year on year, sementara kapasitas nuklir hanya bertambah 1,5 GW menjadi 399,5 GW. Angka itu berasal dari World Nuclear Industry Status Report 2026 yang dirilis September 2026 dan dilaporkan pv magazine pada 29 September 2026. Pada April 2025, pembangkit solar bulanan melampaui nuklir untuk pertama kalinya dalam skala global.
TL;DR
- Solar 2.383 GW pada 2025, naik 27 persen; nuklir 399,5 GW, naik 1,5 GW.
- Solar bulanan melampaui nuklir pertama kali pada April 2025.
- Pangsa nuklir di listrik global turun ke 8,8 persen, terendah dalam 4,5 dekade.
- Baterai grid 104 GW dan 257 GWh terpasang sepanjang 2025.
- Data PV WNISR konservatif; IEA PVPS mencatat sekitar 690 GW tambahan.
Berapa kapasitas solar dan nuklir pada 2025?
Selisihnya sudah bukan lagi tipis. Solar menutup 2025 dengan 2.383 GW kapasitas terpasang, angin 1.291 GW, dan nuklir 399,5 GW. Dalam angka pertumbuhan, solar menambah 510 GW atau 27 persen, angin menambah rekor 159 GW atau 14 persen, sedangkan nuklir menambah 1,5 GW. Kapasitas nuklir yang beroperasi justru turun 0,5 GW menjadi 368,6 GW.
Perbedaan skala ini penting karena kapasitas bukan ukuran produksi. Solar dan angin punya faktor kapasitas jauh lebih rendah daripada nuklir, sehingga 2.383 GW solar tidak menghasilkan listrik sebanyak 2.383 GW nuklir. Meski begitu, pertumbuhan tahunan solar sudah cukup besar untuk melampaui produksi listrik nuklir secara total, dan itu terjadi pada 2025.
| Sumber | Kapasitas 2025 | Tambahan | Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Solar | 2.383 GW | 510 GW | 27 persen |
| Angin | 1.291 GW | 159 GW | 14 persen |
| Nuklir terpasang | 399,5 GW | 1,5 GW | 0,4 persen |
| Nuklir beroperasi | 368,6 GW | turun 0,5 GW | negatif |
Kapan solar pertama kali melampaui nuklir?
Angin lebih dulu, lalu solar. Laporan mencatat angin melampaui produksi nuklir dalam basis bulanan pada Maret 2025, disusul solar pada April 2025. Sejak Maret 2025 sampai Juni 2026, salah satu dari solar atau angin secara individual menghasilkan listrik lebih banyak daripada nuklir setiap bulan. Pada Maret, April, dan Mei 2026, keduanya melampaui nuklir secara terpisah.
Pada basis tahunan, produksi listrik solar global melompat 30 persen sepanjang 2025 dan melampaui produksi listrik nuklir tahunan untuk pertama kalinya. Produksi nuklir sendiri naik 1,1 persen menjadi 2.703 TWh, dengan kenaikan 7,6 persen di China. Di luar China, produksi nuklir turun 0,2 persen dan masih jauh di bawah level 2006.
Mycle Schneider, konsultan energi nuklir yang menyusun laporan ini, menyebut pertumbuhan sebagai faktor penentu. Dalam wawancara dengan pv magazine, ia menyoroti bahwa armada nuklir dunia hanya menambah output 1,1 persen sementara solar tumbuh 30 persen. Kutipan lengkapnya ada di liputan pv magazine soal WNISR 2026.
Kenapa pertumbuhan nuklir lambat?
Karena kapasitas nuklir praktis datar selama lebih dari 25 tahun, dan penyebabnya struktural. Pembangkit nuklir butuh waktu konstruksi panjang, biaya awal besar, dan proses perizinan berlapis. Dalam periode yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu reaktor, kapasitas solar global bisa bertambah lebih dari seratus gigawatt. Selisih kecepatan itu yang membuat pangsa nuklir terus mengecil meski kapasitas absolutnya tidak turun drastis.
Laporan mencatat bahwa per 1 Juli 2026 ada 411 reaktor beroperasi di 31 negara, dengan kapasitas operasi 374,7 GW, tidak termasuk 30 unit yang berada dalam status long-term outage. Sebaran geografisnya juga sempit: aktivitas baru terkonsentrasi di China dan Rusia. Di luar dua negara itu, gambarannya lebih banyak penuaan armada daripada penambahan kapasitas.
Pangsa nuklir dalam produksi listrik global turun ke 8,8 persen, level terendah dalam empat setengah dekade. Sebagai pembanding, puncaknya sekitar 17,5 persen pada 1996. Artinya pangsa nuklir kini kira-kira separuh dari level tertingginya, dan penurunan itu terjadi saat total permintaan listrik global justru tumbuh.
Apa artinya untuk pasar dan investor?
Sinyal pasarnya cukup keras. Laporan menyebut Holtec menahan rencana initial public offering beberapa hari sebelum pencatatan, padahal perusahaan itu berharap mengumpulkan hampir 1 miliar dolar. Perusahaan sejenis, Fermi, kehilangan sekitar 80 persen nilai sahamnya sejak pencatatan pada Oktober 2025. Schneider menilai penyebabnya sederhana: tidak ada hasil di lapangan yang cukup untuk meyakinkan investor agar terus menyuntik dana.
Sebaliknya, sisi renewables mendapat dukungan dari penurunan biaya baterai. Baterai skala grid yang terpasang sepanjang 2025 mencapai 104 GW dan 257 GWh, dan lebih dari 78 persen kapasitas penyimpanan baterai kumulatif dipasang antara 2023 dan 2025. Penyimpanan adalah kunci karena nilainya bukan menambah produksi, melainkan menggeser produksi ke jam ketika harga listrik tinggi atau ketika jaringan butuh dukungan.
Untuk pasar Indonesia, angka global ini relevan sebagai konteks, bukan resep. Struktur jaringan, bauran energi, dan kebijakan harga listrik berbeda, sehingga laju adopsi tidak bisa disamakan. Yang bisa diambil adalah arah: biaya pembangkitan solar dan penyimpanan turun lebih cepat daripada biaya pembangunan nuklir, dan itu mengubah urutan prioritas investasi di banyak negara.
Seberapa besar peran baterai dalam cerita ini?
Baterai adalah bagian yang membuat pertumbuhan solar bisa dipakai, bukan hanya dipasang. Tanpa penyimpanan, produksi solar siang hari sering jatuh ke jam dengan harga rendah atau negatif, dan itu mengurangi nilai ekonomi setiap megawatt yang ditambahkan. Dengan penyimpanan, produksi bisa digeser ke jam permintaan puncak, sehingga nilai per kWh naik tanpa harus menambah kapasitas pembangkit.
Angka 104 GW dan 257 GWh untuk satu tahun menunjukkan bahwa penyimpanan sudah bergerak dari proyek percontohan ke skala utilitas. Konsentrasi 78 persen kapasitas kumulatif dalam tiga tahun terakhir juga menunjukkan bahwa pertumbuhannya baru saja dimulai, bukan sudah matang. Kalau pola ini berlanjut, hambatan utama adopsi solar bergeser dari biaya panel ke koneksi jaringan dan perizinan.
Laporan juga mencatat bahwa jaringan mulai menghadapi volume pembangkit variabel yang besar dan periode harga listrik rendah atau negatif. Kondisi itu menekan model bisnis pembangkit fleksibel konvensional, tetapi membuka ruang bagi penyimpanan dan respons sisi permintaan. Bagi operator jaringan, tantangannya bukan lagi menambah kapasitas, melainkan mengelola fluktuasi.
Apa yang perlu diwaspadai dari angka-angka ini?
Angka kapasitas mudah disalahartikan sebagai produksi. Solar 2.383 GW dan nuklir 399,5 GW tidak berarti solar menghasilkan enam kali listrik nuklir, karena faktor kapasitas keduanya berbeda jauh. Perbandingan yang adil adalah produksi tahunan, dan di situ solar baru saja melampaui nuklir, bukan menggandakannya.
Ada juga perbedaan metodologi yang perlu dicatat. WNISR memakai estimasi PV yang relatif konservatif. Data IEA PVPS menunjukkan tambahan PV global sekitar 690 GW pada 2025, sekitar 180 GW lebih tinggi dari angka yang dipakai WNISR. Kalau angka IEA PVPS dipakai, selisih kapasitas dan laju pertumbuhan antara solar dan nuklir akan terlihat lebih lebar lagi. Rincian metodologi WNISR bisa dibaca di situs resmi World Nuclear Industry Status Report, dan data PV ada di IEA Photovoltaic Power Systems Programme.
Terakhir, satu tahun data bukan tren permanen. Solar bisa melampaui nuklir pada 2025 dan tetap unggul pada 2026, tetapi kebijakan dagang, harga komponen, dan antrean koneksi jaringan bisa memperlambat laju. Yang cukup aman disimpulkan adalah arahnya: pertumbuhan solar jauh lebih cepat, dan pangsa nuklir terus menurun dalam bauran listrik global.
Bagaimana tren ini terlihat di level negara?
Terpusat di beberapa negara, dan itu berlaku untuk kedua sisi. Untuk nuklir, kenaikan produksi global 1,1 persen sepenuhnya ditopang China yang tumbuh 7,6 persen, sementara produksi di luar China turun 0,2 persen. Artinya tanpa China, armada nuklir dunia sedang menyusut, bukan tumbuh. Sebaran 411 reaktor di 31 negara juga menunjukkan bahwa basis negaranya sempit dan didominasi pemain lama.
Untuk solar, pertumbuhannya jauh lebih tersebar meski China tetap menjadi pasar terbesar. Tambahan 510 GW secara global tidak mungkin berasal dari satu negara saja, dan laju 27 persen menunjukkan adopsi yang merata di banyak pasar sekaligus. Pola ini penting karena diversifikasi geografis membuat rantai pasok dan permintaan lebih tahan terhadap guncangan kebijakan satu negara.
Bagi pembaca di Indonesia, implikasinya bukan meniru angka, melainkan membaca arah kebijakan. Negara yang berhasil menambah kapasitas solar cepat biasanya menyelesaikan tiga hal lebih dulu: antrean koneksi jaringan yang jelas, aturan net metering yang stabil, dan kerangka penyimpanan yang tidak menghukum investasi. Tanpa ketiganya, kapasitas tambahan cenderung tertahan di tahap perizinan.
Apa risiko di balik pertumbuhan solar yang cepat?
Risiko utamanya bukan pada panel, melainkan pada jaringan. Laporan menyebut jaringan mulai menghadapi volume pembangkit variabel besar dan periode harga listrik rendah atau negatif. Harga negatif muncul ketika produksi siang hari melebihi permintaan dan pembangkit tidak bisa dimatikan dengan cukup cepat. Bagi operator, itu sinyal bahwa kapasitas pembangkit sudah melampaui kemampuan jaringan menyerapnya.
Solusinya bersifat infrastruktur: penyimpanan, interkoneksi antar wilayah, respons sisi permintaan, dan fleksibilitas pembangkit lain. Semua itu butuh investasi dan waktu, dan itulah sebabnya pertumbuhan kapasitas solar tidak otomatis berarti penurunan biaya listrik bagi konsumen dalam jangka pendek. Ada jeda antara penambahan pembangkit dan kemampuan sistem memanfaatkannya.
FAQ
Apakah solar benar-benar menghasilkan lebih banyak listrik dari nuklir?
Pada 2025, produksi listrik solar global melampaui produksi nuklir tahunan untuk pertama kalinya, dengan pertumbuhan solar 30 persen dan nuklir 1,1 persen. Pada basis bulanan, solar lebih dulu melampaui nuklir pada April 2025.
Mengapa kapasitas nuklir hampir tidak bertambah?
Karena waktu konstruksi panjang, biaya awal besar, dan aktivitas baru terkonsentrasi di China serta Rusia. Kapasitas nuklir praktis datar lebih dari 25 tahun, sementara solar dan angin tumbuh jauh lebih cepat dalam periode yang sama.
Apakah angka 2.383 GW berarti produksi listrik solar sebesar itu?
Tidak. Itu kapasitas terpasang, bukan produksi. Faktor kapasitas solar jauh lebih rendah daripada nuklir, jadi perbandingan produksi harus memakai TWh, bukan GW. Pada 2025 produksi solar baru melampaui nuklir, bukan berkali-kali lipat.
Kenapa baterai disebut penting untuk solar?
Karena baterai menggeser produksi siang hari ke jam permintaan puncak, sehingga nilai ekonomi setiap kWh naik. Sepanjang 2025 terpasang 104 GW dan 257 GWh penyimpanan grid, dengan lebih dari 78 persen kapasitas kumulatif dibangun dalam tiga tahun terakhir.
Apakah data ini bisa dipakai untuk memproyeksikan Indonesia?
Tidak langsung. Struktur jaringan, bauran energi, dan kebijakan harga listrik Indonesia berbeda. Angka global ini lebih tepat dipakai sebagai konteks arah biaya, bukan dasar proyeksi kapasitas domestik.
💬 Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama! 💬