Tools Review

JPEG XL vs AVIF 2026: AVIF Masih Menang untuk Web, Ini Datanya

JPEG XL vs AVIF 2026: AVIF Masih Menang untuk Web, Ini Datanya

Untuk foto lossy di web, AVIF masih menghasilkan file lebih kecil daripada JPEG XL pada 2026. Dalam benchmark yang dipublikasikan Jake Archibald pada 15 Oktober 2026, JPEG XL versi terbaik rata-rata 15 sampai 25 persen lebih besar dari AVIF pada effort default, dan 6 sampai 20 persen lebih besar pada effort maksimum. Untuk screenshot dan ilustrasi, selisihnya melebar menjadi 30 sampai 90 persen.

TL;DR

  • Foto lossy: JPEG XL 15-25 persen lebih besar dari AVIF pada effort default.
  • Screenshot dan ilustrasi: JPEG XL 30-90 persen lebih besar.
  • Lossless: JPEG XL menang, AVIF 30-120 persen lebih besar.
  • Decode JPEG XL 2-3 kali lebih lambat pada kualitas menengah.
  • Rekomendasi benchmark: default AVIF 4:4:4, bukan 4:2:0.

Berapa selisih ukuran file AVIF dan JPEG XL?

Selisihnya bergantung pada jenis gambar, dan itulah inti temuan benchmark tersebut. Untuk foto dengan detail natural, AVIF unggul konsisten. Untuk gambar bersih dengan bidang warna rata seperti screenshot aplikasi atau ilustrasi vektor, keunggulan AVIF jauh lebih besar. Untuk konten dengan transparansi, JPEG XL tertinggal paling jauh.

Angka lengkapnya tersedia di artikel benchmark JPEG XL vs AVIF yang memakai satu set gambar uji tetap dan beberapa encoder berbeda. Metodologinya membandingkan ukuran file pada kualitas visual setara, bukan pada angka quality setting yang sama, karena setiap encoder memetakan quality ke hasil yang berbeda.

Jenis kontenEffort defaultEffort maksimumPemenang
Foto lossyJPEG XL 15-25 persen lebih besarJPEG XL 6-20 persen lebih besarAVIF
Screenshot dan ilustrasiJPEG XL 30-90 persen lebih besarJPEG XL 20-70 persen lebih besarAVIF
Transparansi dengan libjxlJPEG XL 31-44 persen lebih besarJPEG XL 61-70 persen lebih besarAVIF
Transparansi dengan jixel2-3 kali ukuran AVIF2-3 kali ukuran AVIFAVIF
LosslessWebP 9-17 persen lebih besar, AVIF 30-120 persen lebih besarSamaJPEG XL

Kapan JPEG XL justru lebih baik?

Ada tiga situasi yang jelas menguntungkan JPEG XL. Pertama, transcoding JPEG lama: JPEG XL bisa memperkecil file JPEG yang sudah ada sebesar 9 sampai 20 persen tanpa kehilangan tambahan, dan decode-nya sama cepat atau lebih cepat kecuali untuk gambar kecil. Kedua, kompresi lossless: di sini JPEG XL menang jelas, dengan WebP lossless 9 sampai 17 persen lebih besar dan AVIF lossless 30 sampai 120 persen lebih besar. Ketiga, progressive preview pada effort tinggi, yang menurut benchmark hampir gratis.

Di luar tiga kasus itu, keunggulan JPEG XL lebih bersifat kasuistis. Benchmark menemukan outlier di mana JPEG XL mendekati atau bahkan mengalahkan AVIF pada foto tertentu, tetapi jumlahnya tidak cukup untuk mengubah rekomendasi default. Praktik yang disarankan: encode dengan AVIF dulu, lalu kalau ukurannya terasa janggal untuk jenis gambar itu, coba JPEG XL lewat encoder jixel dan bandingkan hasilnya.

Untuk pengguna yang masih menyimpan arsip JPEG dan ingin menghemat ruang tanpa mengubah alur kerja, transcoding tetap pilihan paling aman. Tidak ada perubahan format tampilan, tidak ada dependensi decoder baru di browser lama, dan penghematannya langsung terasa di penyimpanan serta transfer.

Kenapa pilihan encoder menentukan hasil?

Karena dua encoder JPEG XL yang dibandingkan berperilaku sangat berbeda. libjxl adalah implementasi referensi, sedangkan jixel adalah encoder yang lebih baru dan biasanya menghasilkan file lebih kecil. Namun benchmark mencatat kasus di mana jixel tampak memainkan metrik kualitas dan secara visual menghasilkan gambar yang lebih buruk. Itu sebabnya perbandingan berbasis satu angka kualitas saja tidak cukup.

Pada konten dengan transparansi detail, jixel selalu meng-encode alpha secara lossless. Konsekuensinya file menjadi dua sampai tiga kali ukuran AVIF, dan keunggulan ukuran yang biasa dimiliki jixel hilang sepenuhnya. Untuk aset UI dengan bayangan lembut atau tepi semi-transparan, ini masalah nyata, bukan detail teoretis.

Di sisi AVIF, encoder yang dipakai benchmark adalah encoder AVIF standar yang sudah matang. Perbedaan performa antar encoder AVIF jauh lebih kecil dibanding jarak antara libjxl dan jixel, sehingga hasilnya lebih mudah diprediksi di pipeline produksi. Untuk tim yang butuh hasil konsisten tanpa tuning per gambar, sifat ini penting.

Bagaimana dengan kecepatan encode dan decode?

AVIF umumnya lebih cepat untuk encode dan memakai memori lebih sedikit kalau ukuran file ikut diperhitungkan. jixel memang lebih cepat dari AVIF dan lebih hemat memori, tetapi file yang dihasilkan biasanya jauh lebih besar, sehingga total biaya transfer dan penyimpanan membalikkan keunggulan itu. Untuk decode, AVIF juga lebih cepat: JPEG XL biasanya butuh 2 sampai 3 kali lebih lama pada kualitas menengah.

Ada satu pengecualian yang menarik. Pada kualitas sangat tinggi, jarak kecepatan decode menyempit, dan Chrome kadang bisa men-decode JPEG XL lebih cepat dari AVIF. Ini relevan untuk gambar hero beresolusi besar dengan kualitas tinggi, tetapi tidak mengubah gambaran umum untuk gambar biasa di halaman listing atau thumbnail.

Effort setting juga perlu diperhatikan. Untuk AVIF dan jixel, menaikkan effort masih sepadan karena hasilnya membaik. Untuk libjxl, effort tinggi jauh lebih lambat, memakai memori jauh lebih banyak, dan hasilnya hampir tidak berubah. Pada beberapa kasus, effort tinggi libjxl justru menghasilkan file lebih besar dari effort default. Menghabiskan CPU di sana adalah pemborosan yang tidak terlihat di dashboard.

Apa rekomendasi praktis untuk situs produksi?

Default yang disarankan benchmark cukup jelas: AVIF 4:4:4 dengan effort setinggi yang masih nyaman untuk pipeline. Mode 4:2:0 sebaiknya bukan default karena jarang memperkecil file dan membuat kualitas tinggi lebih sulit dicapai, meskipun encode dan decode-nya lebih cepat. Kalau ada waktu untuk memeriksa per gambar, bandingkan 4:4:4 dan 4:2:0 pada beberapa sampel sebelum memutuskan.

Untuk progressive rendering, AVIF sudah mendukungnya, meski saat ini terbatas di Chrome dan sedang dikerjakan untuk Firefox. Implementasinya lebih rumit daripada progressive JPEG XL, tetapi kontrol terhadap tampilan preview lebih besar, file biasanya lebih kecil, dan decode jauh lebih cepat. Kalau target audiens memakai browser modern dan halaman punya gambar besar di atas fold, ini opsi yang layak diuji.

Yang perlu dihindari adalah format gambar animasi. Benchmark menyebutnya sebagai ide yang tetap buruk, dan tidak ada alasan teknis baru yang mengubah penilaian itu. Untuk animasi pendek, video terkompresi tetap lebih efisien daripada rangkaian frame di format gambar apa pun.

Soal dukungan browser, JPEG XL sudah masuk ke semua browser utama pada 2026, termasuk Chrome yang mengumumkan dukungannya di blog developer Chrome. Spesifikasi AVIF bisa dibaca di dokumen AVIF specification, dan implementasi encoder JPEG XL ada di repositori libjxl. Dukungan yang sudah merata berarti keputusan format kini murni soal ukuran, kecepatan, dan kualitas, bukan lagi soal kompatibilitas.

Satu peringatan yang layak diulang: banyak klaim tentang format gambar beredar dari sumber yang tidak diuji ulang, termasuk dari model bahasa. Benchmark ini secara eksplisit menyarankan pengujian dengan gambar sendiri, karena hasil pada satu set gambar belum tentu berlaku untuk set gambar lain dengan karakter berbeda.

Bagaimana memilih format untuk pipeline otomatis?

Pipeline otomatis butuh aturan yang bisa dijalankan tanpa inspeksi manual per gambar, dan di sinilah karakter data benchmark berguna. Pola yang paling aman adalah mengelompokkan aset berdasarkan jenis konten, lalu menetapkan format default per kelompok. Foto produk, foto editorial, dan gambar hero masuk kelompok foto. Screenshot aplikasi, diagram, dan ilustrasi masuk kelompok grafis. Ikon kecil dan aset dengan transparansi masuk kelompok ketiga.

Untuk kelompok foto, AVIF 4:4:4 dengan effort menengah adalah default yang masuk akal. Untuk kelompok grafis, AVIF dengan effort lebih tinggi masih menang jauh, karena selisih 30 sampai 90 persen terlalu besar untuk diabaikan. Untuk kelompok transparansi, AVIF juga unggul, dan JPEG XL baru layak dipertimbangkan kalau ada kebutuhan spesifik seperti alpha bit-exact. Untuk aset lossless, JPEG XL adalah pilihan yang jelas.

Langkah kedua adalah menyimpan hasil benchmark internal. Setiap kali pipeline mengubah encoder atau versi library, jalankan ulang pada 20 sampai 30 gambar representatif dan catat ukuran serta waktu encode. Tanpa catatan itu, regresi ukuran file bisa masuk tanpa terlihat, karena halaman tetap tampil normal meski asetnya membengkak. Perubahan satu versi encoder cukup untuk menggeser hasil beberapa persen, dan itu menumpuk cepat di situs dengan ribuan gambar.

Langkah ketiga adalah memastikan fallback tetap ada. Meski dukungan browser sudah merata pada 2026, pengunjung dengan browser lama atau WebView tertanam masih mungkin ada. Elemen picture dengan sumber AVIF, lalu JPEG XL, lalu JPEG biasa adalah pola yang murah dan tidak menambah kompleksitas berarti. Yang penting, urutannya benar: browser memilih format pertama yang dikenali, jadi format dengan kompresi terbaik harus berada di depan.

Terakhir, jangan mengukur keberhasilan dari ukuran file saja. Metrik yang lebih jujur adalah waktu render halaman dan total byte yang benar-benar terkirim ke pengguna. Gambar yang lebih kecil tetapi memaksa decode lambat bisa menghasilkan pengalaman yang lebih buruk, terutama di perangkat kelas bawah. Benchmark decode dalam artikel sumber memberi petunjuk bahwa selisih kecepatan antar format cukup besar untuk diperhitungkan, bukan hanya ukuran akhir file.

FAQ

Apakah JPEG XL sudah aman dipakai di produksi 2026?

Dari sisi dukungan browser, ya, karena semua browser utama sudah mendukungnya. Yang perlu dipertimbangkan adalah ukuran file: untuk foto dan screenshot, AVIF masih lebih kecil, jadi JPEG XL lebih tepat sebagai opsi selektif, bukan format default.

Apakah AVIF 4:2:0 selalu lebih kecil?

Tidak. Benchmark menemukan bahwa mode 4:2:0 jarang memperkecil file dan justru membuat kualitas tinggi lebih sulit dicapai. Untuk sebagian besar kasus, 4:4:4 adalah pilihan default yang lebih aman.

Format mana yang terbaik untuk gambar lossless?

JPEG XL. Pada data benchmark, WebP lossless 9 sampai 17 persen lebih besar dan AVIF lossless 30 sampai 120 persen lebih besar. Namun lossless jarang dibutuhkan di web, jadi keunggulan ini hanya relevan untuk aset yang memang harus bit-exact.

Berapa penghematan dari transcoding JPEG lama ke JPEG XL?

Sekitar 9 sampai 20 persen lebih kecil tanpa kehilangan tambahan, dengan decode yang sama cepat atau lebih cepat kecuali untuk gambar berukuran kecil. Ini cara termurah memakai JPEG XL tanpa mengubah pipeline produksi gambar baru.

Apakah hasil benchmark ini berlaku untuk semua jenis gambar?

Tidak sepenuhnya. Ada outlier yang menguntungkan JPEG XL, dan karakter gambar sangat memengaruhi hasil. Benchmark menyarankan pengujian ulang dengan gambar sendiri sebelum mengubah default pipeline secara menyeluruh.

💬 Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama! 💬

Komentar akan muncul setelah moderasi.