David Bushell, pengembang web asal Inggris, menulis pada 3 Oktober 2026 bahwa ia meninggalkan Deno dan kembali ke Node setelah proyek klien berbasis SvelteKit menuntutnya memakai Node. Dengan Node v26.10.0, ia melaporkan proses migrasi situs statisnya hanya butuh beberapa penyesuaian, dan hasilnya build 15 persen lebih cepat. Artikel ini merangkum pengalamannya beserta langkah teknis yang bisa Anda pakai bila mempertimbangkan migrasi serupa.
TL;DR
- Penulis bermigrasi dari Deno ke Node v26.10.0 dan melaporkan build 15 persen lebih cepat.
- Perubahan kode yang dibutuhkan minimal: Deno API diganti dengan modul node:fs, node:path, dan adapter Node.
- Node kini menjalankan TypeScript secara native, tetapi menolak berkas TypeScript di dalam folder node_modules.
- Penulis memakai PNPM dengan minimumReleaseAge 1440 menit dan trustPolicy no-downgrade untuk menekan risiko malware.
- Alasan utama pindah adalah gangguan integrasi ZSH dan masalah rate limit JSR pada Deno.
Kenapa penulis memutuskan pindah dari Deno ke Node?
Menurut penulisnya, keputusan itu dipicu oleh sederet gangguan praktis, bukan sekadar selera. Ia menyebut integrasi ZSH yang rusak selama berminggu-minggu, batas laju agresif JSR berupa respons 429 Too Many Requests, serta bug yang membuat Deno tersendat saat menghadapi permintaan HTTP konkuren. Kombinasi itu, ditambah penilaiannya bahwa Deno berhenti berinovasi, membuat runtime tersebut menurutnya nyaris tidak bisa dipakai untuk pekerjaan sehari-hari.
Di sisi lain, ia menemukan Node sudah berubah banyak. Semua sintaks ECMAScript modern yang ia andalkan sudah didukung, API lama yang dulu menjengkelkan sudah diganti atau dimodernisasi, dan ia mengaku tidak perlu lagi melihat require(). Penilaian ini bersifat subjektif dan berasal dari pengalaman satu pengembang, tetapi alasan teknis yang ia sebutkan cukup spesifik untuk dijadikan bahan pertimbangan saat mengevaluasi runtime. Bagi tim yang sedang menimbang, menguji beban kerja nyata di kedua runtime tetap langkah paling masuk akal.
Apa saja perubahan kode yang dibutuhkan saat migrasi?
Perubahan yang dilaporkan penulis ternyata minimal. Migrasi ini, menurutnya, tidak lagi menuntut refactor besar seperti beberapa versi Node sebelumnya. Ia hanya perlu mengganti API sistem berkas Deno dengan node:fs, mengganti Deno.serve dengan adapter Node dari Hono, dan menukar modul @std/path dengan node:path. Untuk memilih versi Node, ia memakai Fast Node Manager (FNM), sedangkan untuk membundel paketnya ia memakai Tsdown.
Satu batasan penting yang ia soroti: meskipun Node kini bisa menjalankan TypeScript secara native, Node menolak memproses berkas TypeScript yang berada di dalam folder node_modules, dengan galat ERR_UNSUPPORTED_NODE_MODULES_TYPE_STRIPPING. Penulis menilai pembatasan ini lebih bersifat filosofis daripada teknis, dan implikasinya praktis: Anda tidak bisa begitu saja menerbitkan paket berisi TypeScript mentah ke NPM. Karena itu ia tetap membutuhkan bundler untuk mengemas kodenya sebelum dipublikasikan.
Ia juga menyebut bahwa NPM kini membuat paketnya kehilangan provenance, dan ia harus mengonfigurasi kebijakan kepercayaan PNPM agar paketnya sendiri diizinkan. Detail seperti ini menunjukkan bahwa migrasi runtime bukan hanya soal API, tetapi juga soal rantai pasok dan tata kelola paket.
Bagaimana hasil performanya setelah migrasi?
Hasil paling konkret yang dilaporkan adalah build 15 persen lebih cepat setelah kode dipindahkan ke Node. Penulis mengaku terkejut karena kodebasenya masih condong ke gaya idiomatik Deno, dan ia menduga masih ada potensi peningkatan bila lebih banyak memakai API bawaan Node. Angka 15 persen itu penting karena menunjukkan bahwa biaya migrasi bisa terbayar dari sisi performa, bukan hanya dari sisi kenyamanan ekosistem.
Namun ia juga jujur bahwa migrasi ini masih versi minimum. Ia belum menyentuh optimalisasi lanjutan, sehingga angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai titik awal, bukan hasil akhir. Untuk tim yang mempertimbangkan langkah serupa, cara paling aman adalah mengukur waktu build dan waktu uji sebelum dan sesudah migrasi pada proyek Anda sendiri, karena hasilnya sangat bergantung pada karakter kodebase.
Bagaimana mengelola paket dengan aman memakai PNPM?
Penulis memilih PNPM untuk menghindari risiko paket berbahaya. Ia menambahkan dua pengaturan di pnpm-workspace.yaml: minimumReleaseAge 1440 menit dan trustPolicy no-downgrade. Pengaturan pertama menunda pemasangan rilis baru selama sehari, memberi waktu bagi orang lain untuk lebih dulu menemukan malware, sedangkan yang kedua mencegah penurunan versi yang bisa dipakai untuk menyusupkan versi lama berbahaya.
Ia mengaku awalnya mencoba menunda satu bulan, tetapi itu menyebabkan masalah pencocokan versi di PNPM, sehingga ia memilih satu hari sebagai kompromi. Ia juga menyebut PNPM memblokir skrip pasca-instalasi, sebuah lapisan pertahanan yang relevan mengingat banyak serangan paket memanfaatkan hook tersebut. Meski begitu, ia menegaskan pengaturan ini tetap heuristik dan tidak menggantikan tinjauan manual atas dependensi yang benar-benar kritis.
Untuk kompatibilitas, ia menambahkan alias agar npm dan npx mengarah ke pnpm dan pnpx. Praktik ini memudahkannya mengikuti panduan instalasi yang mengasumsikan NPM terpasang, tanpa harus keluar dari ekosistem PNPM.
Bagaimana perbandingan Deno dan Node dari pengalaman ini?
Perbandingan berikut merangkum poin-poin yang disebut penulis, dan sifatnya pengalaman satu orang, bukan hasil benchmark independen. Tetap berguna sebagai daftar hal yang layak diuji sendiri.
| Aspek | Deno | Node v26.10.0 |
|---|---|---|
| Jalankan TypeScript native | Ya, sejak awal | Ya, kecuali berkas di node_modules |
| Integrasi shell | Integrasi ZSH dilaporkan rusak | Tidak dikeluhkan penulis |
| Manajer paket | JSR | NPM, PNPM, dan lain-lain |
| Respons permintaan konkuren | Dilaporkan bermasalah | Tidak dikeluhkan penulis |
| Kecepatan build | Baseline sebelum migrasi | 15 persen lebih cepat |
Perlu ditegaskan, kesimpulan penulis bahwa tidak ada alasan memakai Deno adalah opininya sendiri. Runtime Deno tetap dikembangkan aktif dan punya keunggulan desain seperti izin keamanan bawaan. Karena itu, keputusan migrasi sebaiknya didasarkan pada kebutuhan proyek, dukungan dependensi, dan hasil uji pada beban kerja nyata, bukan pada satu tulisan pengalaman.
Bagaimana langkah praktis memulai migrasi dari Deno ke Node?
Mulailah dari inventaris API Deno yang dipakai proyek Anda. Berdasarkan pengalaman penulis, penggantian yang paling umum adalah Deno API untuk sistem berkas menjadi node:fs, modul @std/path menjadi node:path, dan Deno.serve menjadi adapter Node dari framework HTTP pilihan Anda. Buat daftar seluruh titik pemakaian, lalu ganti satu per satu sambil menjalankan uji otomatis setelah tiap perubahan.
Langkah berikutnya adalah menyiapkan manajemen versi. Penulis memakai Fast Node Manager untuk berpindah versi Node, sehingga proyek klien yang menuntut stabilitas bisa tetap memakai versi lama sementara proyek lain memakai versi terbaru. Setelah itu, siapkan bundler untuk mengemas paket, karena Node menolak berkas TypeScript di dalam node_modules dan karena itu paket tetap perlu dikompilasi sebelum dipublikasikan.
Terakhir, ukur. Catat waktu build, waktu uji, dan ukuran artefak sebelum dan sesudah migrasi. Penulis melaporkan build 15 persen lebih cepat, tetapi angka itu berasal dari satu proyek dengan karakter tertentu. Pada proyek Anda, hasilnya bisa berbeda, dan pengukuran sendiri adalah satu-satunya cara memastikan migrasi ini benar-benar menguntungkan.
Apa saja yang perlu diwaspadai sebelum pindah runtime?
Waspadai ketergantungan yang hanya tersedia di satu ekosistem. Beberapa paket Deno mungkin belum punya padanan langsung di Node, dan sebaliknya. Sebelum memutuskan, periksa seluruh dependensi kritis dan pastikan ada jalur pengganti yang terpelihara, bukan sekadar fork yang tidak diperbarui.
Waspadai juga aspek keamanan rantai pasok. Penulis menambahkan pengaturan minimumReleaseAge dan trustPolicy no-downgrade di PNPM justru karena risikonya nyata. Jika Anda pindah ke Node dan NPM, tinjau kembali kebijakan instalasi paket, aktifkan pemblokiran skrip pasca-instalasi bila memungkinkan, dan batasi dependensi yang punya akses ke jaringan atau sistem berkas.
Terakhir, jangan menganggap pengalaman orang lain sebagai jaminan. Tulisan yang menjadi sumber artikel ini adalah opini satu pengembang, bukan hasil benchmark independen. Uji pada beban kerja nyata milik Anda, dengan data dan kode Anda sendiri, sebelum memindahkan proyek produksi.
FAQ
Apakah Node sudah bisa menjalankan TypeScript tanpa transpile?
Ya, Node versi terbaru bisa menjalankan TypeScript secara native. Namun menurut pengalaman penulis, Node menolak berkas TypeScript yang berada di dalam folder node_modules, sehingga paket tetap perlu dikemas dengan bundler sebelum dipublikasikan.
Apa itu minimumReleaseAge di PNPM?
Itu pengaturan yang menunda pemasangan versi paket baru selama jangka waktu tertentu. Penulis memakai 1440 menit atau satu hari agar rilis berbahaya sempat dilaporkan orang lain sebelum masuk ke proyeknya.
Berapa lama proses migrasi seperti ini?
Menurut penulis, perubahan yang dibutuhkan minimal dan tidak menuntut refactor besar seperti versi Node lama. Ia hanya mengganti API sistem berkas, adapter server, dan modul path, lalu mengukur performa setelahnya.
Apakah Deno sekarang tidak layak dipakai?
Itu penilaian pribadi penulis, bukan fakta umum. Deno masih dikembangkan dan punya keunggulan tersendiri, jadi keputusan sebaiknya didasarkan pada kebutuhan proyek dan hasil uji pada beban kerja Anda sendiri.
Kesimpulan
Pengalaman David Bushell menunjukkan bahwa migrasi dari Deno ke Node tidak lagi semahal dulu. Dengan Node v26.10.0, ia hanya mengganti beberapa API, dan malah mendapat build 15 persen lebih cepat. Bagi tim yang mempertimbangkan langkah serupa, pelajaran utamanya adalah mengukur sendiri, memakai manajer paket yang punya kontrol keamanan seperti PNPM, dan menyadari bahwa sebagian besar argumen dalam tulisan ini adalah opini yang perlu diuji terhadap kebutuhan nyata.
Bagi pengembang di Indonesia, keputusan pindah runtime sebaiknya tidak diambil karena tren. Yang lebih penting adalah memastikan ekosistem paket, dukungan jangka panjang, dan ketersediaan tenaga kerja. Jika proyek Anda bergantung pada paket yang hanya tersedia di satu ekosistem, biaya migrasinya bisa jauh lebih besar daripada keuntungan performa 15 persen yang dilaporkan. Karena itu, uji pada proyek kecil lebih dulu sebelum memindahkan layanan produksi.
Rujukan utama artikel ini adalah tulisan David Bushell, dokumentasi dan catatan rilis Node.js, dokumentasi PNPM, serta blog resmi Deno. Semua angka dan detail teknis mengacu pada sumber tersebut dan sebaiknya diverifikasi ulang pada versi terkini sebelum diterapkan.
💬 Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama! 💬